Categories
Decision Making Featured Leadership Network

7 Perguruan Tinggi Indonesia berkolaborasi untuk peningkatkan kapasitas kepemimpinan perguruan tinggi di Indonesia dilaksanakan di Granada , Spanyol

Tujuh universitas dalam negeri yaitu Universitas Brawijaya, UII, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), President University, Universitas  Negeri Semarang, Universitas Padjajaran dan STIE Malangkucecwara yang membentuk konsorsium yang didukuung oleh Kemendikbudristek dan 3 PT dari luar negeri yaitu University  of Gloucestershire, Inggris,  University of Granada Spanyol dan International School for Social and Business Studies Slovenia mengadakan  Indonesian partners staff training workshop phase 3 yang merupakan  bagian dari kegiatan Ihilead project (Indonesian Higher Education Leadership) di University of Granada dari tanggal 26 sampai 30 September 2022. Project ini dilatarbelakangi bahwa daya saing organisasi sangat dipengaruhi oleh kapasitas kepemimpinan. Tantangan perguruan tinggi diera VUCA ini memerlukan kecepatan, kelenturan dan ketepatan pemimpin dalam membuat keputusan. Keterlibatan mereka diharapkan bisa menjadi mitra perubahan dalam mengadvokasi pentingnya  efektivitas kepemimpinan PT di Indonesia.

Sambutan pembukaan acara tersebut disampaikan oleh Dr. Irene Pedreira Romero, Director of projects and international agreements, and representative of the rector at University of Granada; Dra. Tjitjik Srie Tjahjandarie PhD, dari Kemendikbudristek , Dr. Francisco Javier Montoro Ríos, Head of Modern Languages Centre, Granada; David Dawson, Project Main Coordinator University of Gloucestershire serta Ir. Ilya Fadjar Maharika,Ph.D Project coordinator dari Universitas Islam Indonesia.  

Kegiatan di Universitas  Granada yang dimulai jam 09.00 sampai 18.00 ini sangat padat dengan seminar-seminar tentang EU Best Practice Seminar “Principles for Creating Impact from Higher Education” diberikan oleh David Dawson.  Serta  Creating Policy Impact – The Experience from University of Granada  yang disampaikan oleh Dr. José Alberto Castañeda-García, Research and Postgraduate Studies Vicedean dari the Faculty of Economics and Business;  Dr. Juan Antonio Lacomba-Arias  Vice dean International Relations dari Faculty of Economics and Business;  Dr. Ignacio José Blanco-Medina, Director of International Strategy dari the Internationalization Vice rectorate.  Materi ini banyak memberikan penjelasan bagaimana membuat dampak dari kegiatan proyek ini  untuk perguruan tinggi, sesuai dengan harapan dari project IHILEAD terhadap peningkatan skill kepemimpinan di lingkungan PT secara nasional.

Selain itu, David Dawson,  Valerij Dermol  dan Rodrigo Martin-Rojas memberikan contoh tentang  impactful Higher Education projects: Process and Results. Proyek ini sangat strategis bagi tatakelola PT dan diharapkan bisa berdampak signifikan bagi peningkatan kualitas institusi perguruan tinggi di Indonesia dan sejalan untuk mendukung pencapaian program MBKM. (Merdeka Belajar Kampus Merdeka).

Aktifitas peserta pilot project dalam phase 3 ini adalah untuk mengembangkan project of change management yang telah dibuat pada phase 1 dan 2 yang telah dilaksanakan di UII dan Universitas Padjajaran bulan lalu. Aktivitas pada phase sebelumnya menekankan pada pengkayaan dan peningkatan kapasitas peserta pelatihan. Beberapa materi seperti Authentic leadership, managing resource, managing conflict serta beberapa pembahasan kasus diberikan sebagai bekal pengetahuan.

Our Score
Click to rate this post!
[Total: 1 Average: 5]

Hits: 8

Categories
Featured Leadership Network News

Unpad Jadi Tuan Rumah Erasmus+ iHiLead Piloting Leadership Development Program Phase II

[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran menjadi tuan rumah penyelenggaraan “Erasmus+ Indonesian Higher Education Leadership (iHiLead) Piloting Leadership Development Program Phase 2” yang diselenggarakan di kampus Unpad Jatinangor, 23 hingga 25 Agustus 2022. Ketua panitia kegiatan yang juga Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad Prof. Melisa Intan Barliana, Ph.D, Apt. mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari iHiLead Piloting Leadership Development Program Phase 1 yang diselenggarakan di Universitas Islam Indonesia (UII) pada Juli 2022 lalu. Kegiatan tersebut digelar sebagai implentasi hibah yang diterima Unpad bersama tujuh perguruan tinggi di Indonesia yang menerima hibah Erasmus+ terkait capacity building. Program hibah tersebut berlangsung selama tiga tahun dari tahun 2021. Untuk itu, konsorsium penerima hibah tersebut menyelenggarakan program pengembangan kepemimpinan bagi para pejabat di lingkungan perguruan tinggi. Program ini akan dilaksanakan dalam 3 fase. “Di Bandung ini fase yang kedua. Fase yang ketiga pada bulan Desember di Malang. Nanti ada progress report di Granada Spanyol pada Bulan September,” ungkap Prof. Melisa. Kegiatan ini diikuti oleh 14 peserta yang merupakan perwakilan pejabat dari masing-masing perguruan tinggi penerima hibah. Dalam pelatihan tersebut, selain diberikan paparan materi, peserta juga diminta untuk mengidentifikasi masalah, mencari penyelesaian masalah, dan menerapkan solusinya. “Karena ini higher education targetnya lebih ke universitas untuk meningkatkan kapasitas pimpinan di universitas. Jadi para trainee diberikan latihan agar bisa menyelesaikan permasalahan yang memang dapat diaplikasikan secara nasional,” jelas Prof. Melisa. Lebih lanjut, Prof. Melisa mengatakan bahwa tahun ini program pengembangan kapasitas merupakan tahap piloting dan tahun depan, masing-masing perguruan tinggi akan menyelenggarakan pelatihan serupa dengan menggandeng peserta dari perguruan tinggi lain. “Nanti tahun depan adalah implementation phase maka masing-masing universitas harus menyelenggarakan sendiri program pelatihan kepemimpinan ini,” kata Prof. Melisa. Pembukaan kegiatan tersebut dilaksanakan di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Senin (23/8/2022). Dalam sambutannya, Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti mengatakan bahwa skills terkait kepemimpinan dan manajemen sangat diperlukan bagi para pemimpin perguruan tinggi di Indonesia. “Perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Untuk meningkatkan kualitas output, diperlukan kepemimpinan, dan keterampilan manajemen dari para pemimpin perguruan tinggi,” kata Rektor. Dengan demikian, Rektor mengapresiasi penyelenggaraan program ini yang mendukung hal tersebut. Kerja sama dari berbagai perguruan tinggi pun diperlukan dengan komitmen kuat untuk bersama mengembangkan program kepemimpinan di Indonesia. “Saya harap kegiatan ini dapat kita optimalkan,” kata Rektor. Acara pembukaan tersebut juga dihadiri Direktur Sumber Daya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud Dr. Mohammad Sofwan effendi, M.Ed dan Perwakilan European Union dari Erasmus+ Dr. Valorij Dermol. (arm)*

https://www.unpad.ac.id/2022/08/unpad-jadi-tuan-rumah-erasmus-ihilead-piloting-leadership-development-program-phase-ii/

Our Score
Click to rate this post!
[Total: 1 Average: 5]

Hits: 56

Categories
Network News

Consortium Ihilead Held University Leaders Training to Accelerate Transformation Accordance “Merdeka Belajar Kampus Merdeka”

Some college leaders Indonesian and foreign who are members of the consortium iHiLead follow the Train the Trainers at the President Executive Club, Kota Jababeka, Cikarang. Indonesia.  The training, which is held offline and online, aims to increase the capacity of leaders and leadership, so that they are expected to be able to accelerate the transformation of higher education. 

Indonesia has 4,670 higher education institutions in the form of universities, high schools, academies, polytechnics and community schools. All of these higher education institutions have more than 8 million students. On the other hand, the quality of higher education graduates still needs to be improved. This is because there are still many college graduates who find it difficult to find work and even become unemployed. 

As an illustration, data from the Central Statistics Agency states that in February 2021 the number of the workforce will reach 139.81 million. Then, of the entire workforce, the number of Open Unemployment Rates (TPT) is 8.75 million. Of all TPT, which are university graduates reach 5.98% and Diploma I/II/III graduates are 5.87%. 

One of the causes of the high TPT from universities is the quality of graduates who are not in accordance with the needs of the Industrial and Business. According to the Acting Director General of Higher Education, Cultural, Research and Technology (Kemendikbudristek) Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, Asean Eng., there are still many universities in Indonesia that implement an Industry 3.0-based education system. This is out of date. For this reason, Prof. Nizam asked universities in Indonesia to dare to overhaul their education system from Industry 3.0 to Industry 4.0. “Currently, changes no longer occur in a linear fashion, but are increasingly complex. For this reason, universities in Indonesia must begin to abandon old competencies that are no longer needed. Universities in Indonesia must be more adaptive and dare to disrupt themselves,” said Prof. Nizam.

In order to improve the quality of graduates, collaboration between universities is very important. This was emphasized by Dr. Ir. Paristiyanti Nurwandani, MP, Secretary of the Directorate General of Higher Education, Research and Technology, Ministry of Education, Culture, Research and Technology of the Republic of Indonesia, when giving aspeech at the opening of the event Train the Trainers keynote for Indonesian Higher Education Leadership (iHiLead) facilitators, Monday (13/12) . This program is carried out in a manner hybrid. Some participants attended offline at the President Executive Club, Kota Jababeka, Cikarang, by implementing strict health procedures. Some other participants followed it online. This training event involved a number of leaders from various universities. Here what is meant by leaders include the chancellor, vice chancellor, deans and heads of study programs, other academic leaders, senior management circles, including leaders in non-academic fields (educational staff).

They members of the iHiLead consist of seven Indonesian universities and three European Union universities. The seven Indonesian universities are President University from Cikarang, Bekasi, Ahmad Dahlan University and Indonesian Islamic University from Yogyakarta, Brawijaya University and STIE Malangkucecwara from Malang, Semarang State University from Semarang, Padjajaran University from Bandung. Meanwhile, three foreign universities are University of Gloucestershire from the United Kingdom, the International School for Business and Social Studies (ISBSS) from Slovenia, and the University of Granada from Spain.

The iHiLead Consortium is led by David Dawson, PhD, FCIPD, SHEA, Director of the Master of Arts Higher Education Leadership and Management from the University of Gloucestershire. In its implementation in Indonesia, this consortium is under the supervision of the Directorate General of Higher Education, Research and Technology. The iHiLead Consortium aims to improve the quality of higher education in Indonesia through reform of higher education leaders and leadership. The final goal of the consortium is for the quality of higher education graduates to be able to answer the needs of industry. To implement its programs, the iHiLead consortium has the support of the Education, Audiovisual and Culture Executive Agency (EACEA), an agency under Eramus+ of the European Union. Erasmus+ is a commission in the European Union that supports various activities in the fields of education, training, youth and sports in various countries around the world. 

Apart from encouraging cooperation between higher education institutions, said Paristiyanti, the government also encourages the transformation of higher education through the Merdeka Campus program. There are eight Key Performance Indicators of the higher education transformation program which include graduates getting decent jobs, study programs receiving international accreditation, collaborative and participatory classes, study programs collaborating with world-class partners, lecturers receiving international recognition, and practicing practitioners. teaching on campus, lecturers are also active outside the campus (either in industry or other campuses), and students are given the opportunity to gain off-campus experience either through internship programs, conducting research, entrepreneurship or participating in student exchange programs. “Through this transformation, higher education is expected to be able to produce superior human resources, so that Indonesia can grow into a developed country,” said Paristiyanti. 

To support the achievement of these targets, said Paristiyanti, the Ministry of Education and Culture, Research and Technology has prepared a large budget. For example, during 2022, the Ministry of Education and Culture, Research and Technology allocated a budget of Rp. 3 trillion which was allocated to support the Emancipated Learning (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) program. In addition, continued Paristiyanti, the Ministry of Education and Culture and Research and Technology also supports the collaboration of higher education in Indonesia with international institutions, such as the iHiLead consortium. 

In order to produce graduates who are able to answer the needs of industry, universities also need to make a transformation—as proclaimed by the Ministry of Education and Culture, Research and Technology through the MBKM program. In order for the transformation to take place, capacity building for leaders and leadership is a key factor. That is what the program to achieve Train the Trainers aims.

In his welcoming remarks to the participants of the program Train the Trainers, the Chancellor of President University, Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto, emphasized the importance of transforming leaders and leadership in higher education in an effort to improve the quality of higher education in Indonesia. Jony said, “Through this program, it is hoped that the capacity of leaders and leadership in higher education will increase. With this capacity increase, universities are expected to be able to produce graduates who will become future leaders.”

Through this training, Jony also hopes that university leaders will be able to explore various information and gain a lot of knowledge, so that they have a better understanding of what is being and will be done. He said again, “I also hope that this training can increase the positive energy of higher education leaders. Then, the information and positive energy can be disseminated to the educational institutions they lead and to the community.”

There are a number of topics that are the focus of this training event. Among them are issues of authentic leadership, immunity to change, how to manage university resources and human resources, managing change and risk, including managing conflict. In addition, this training also discusses strategies related to action learning and how to implement change projects in universities, including designing changes that have a positive impact. 

***

Overview of the Six Goals of the iHiLead

The consortium consists of seven Indonesian universities and three universities from the European Union. Meanwhile, what is meant by leaders includes the chancellor, vice chancellor, deans and heads of study programs, other academic leaders, senior management circles, including leaders in non-academic fields (educational staff). Referring to the definition of leadership, in the seven universities that are members of the iHiLead consortium alone, there are at least 1,731 leaders and managers. They oversee 7,300 staff and 189,000 students. 

There are six goals that the iHiLead consortium wants to achieve. First, to explore best practices from universities in the European Union that are consortium partners. This includes the design and delivery of the leadership development framework, network and programs. All of this is done to increase the leadership and managerial capacity of the leaders of universities in Indonesia. Second, to build a network between leaders and management in consortium member universities. Later this network is directed to focus on aspects of governance, planning and strategic management, which are aligned and can be applied in various universities in Indonesia.  Third, to organize training for lecturers and education staff at universities. This training is carried out within the framework of leadership and managerial development, network development and other related programs. Fourth, to build infrastructure to support and ensure network continuity. This move is part of a new leadership and managerial development effort and related programs.  Fifth, to design a pilot model and implementation of a new leadership and managerial network and other related programs in universities in Indonesia. 

Sixth, to disseminate new frameworks, networks and programs, after all the networks and programs have been implemented by the seven universities that are members of the consortium. This dissemination is carried out not only for various universities in Indonesia, but also in the European Union and the world.

***

(ID)

Konsorsium iHiLead Gelar Pelatihan Pimpinan Perguruan Tinggi untuk Dorong Percepatan Transformasi Sesuai Program Kampus Merdeka

Sejumlah pimpinan perguruan tinggi Indonesia dan asing yang menjadi anggota konsorsium iHiLead mengikuti Train the Trainers di President Executive Club, Kota Jababeka, Cikarang. Pelatihan yang diselenggarakan secara luring dan daring ini bertujuan meningkatkan kapasitas pemimpin dan kepemimpinan, sehingga mereka diharapkan mampu mendorong percepatan transformasi perguruan tinggi.

Indonesia memiliki 4.670 lembaga pendidikan tinggi baik dalam bentuk universitas, sekolah tinggi, akademi, politeknik hingga sekolah komunitas. Seluruh lembaga pendidikan tinggi tersebut memiliki lebih dari 8 juta mahasiswa. Di sisi lain, kualitas lulusan pendidikan tinggi masih harus ditingkatkan. Ini karena masih banyaknya lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mencari kerja dan bahkan menjadi pengangguran. 

Sebagai gambaran, data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa pada Februari 2021 jumlah angkatan kerja mencapai 139,81 juta. Lalu, dari seluruh angkatan kerja, jumlah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebanyak 8,75 juta. Dari seluruh TPT, yang merupakan lulusan universitas mencapai 5,98% dan lulusan Diploma I/II/III adalah 5,87%.

Salah satu penyebab tingginya TPT dari perguruan tinggi adalah kualitas lulusan yang kurang sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Menurut Pelaksana Tugas Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dikti Ristek) Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, Asean Eng., masih banyak perguruan tinggi di Indonesia yang menerapkan sistem pendidikan berbasis Industry 3.0. Ini sudah ketinggalan. Untuk itu Prof Nizam meminta perguruan-perguruan tinggi di Indonesia agar berani merombak sistem pendidikannya dari Industry 3.0 ke Industry 4.0. “Saat ini perubahan tidak lagi terjadi secara linier, tetapi sudah semakin kompleks. Untuk itu perguruan-perguruan tinggi di Indonesia harus mulai meninggalkan kompetensi-kompetensi lama yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Perguruan tinggi  di Indonesia harus semakin adaptif dan berani mendisrupsi dirinya sendiri,” tegas Prof. Nizam.

Guna meningkatkan kualitas lulusan, kerja sama antarperguruan tinggi menjadi sangat penting. Demikian ditegaskan Dr. Ir. Paristiyanti Nurwandani, MP, Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, saat memberikan sambutan kunci pada pembukaan ajang Train the Trainers untuk fasilitator Indonesia Higher Education Leadership (iHiLead), Senin (13/12). Program ini dilakukan secara hybrid. Sebagian peserta dan narasumber hadir secara luring (offline) di President Executive Club, Kota Jababeka, Cikarang, dengan menerapkan prosedur kesehatan yang ketat. Sebagian peserta lainnya mengikutinya secara daring (online). Ajang pelatihan ini melibatkan sejumlah pimpinan dari berbagai perguruan tinggi. Di sini yang dimaksud dengan pemimpin mencakup rektor, wakil rektor, dekan dan kepala program studi, pimpinan akademik lainnya, kalangan manajemen senior, termasuk para pimpinan di bidang non akademik (tenaga kependidikan).

Mereka ini tergabung dalam konsorsium iHiLead, yakni konsorsium yang beranggotakan tujuh perguruan tinggi Indonesia dan tiga perguruan tinggi Uni Eropa. Tujuh perguruan tinggi Indonesia tersebut adalah President University dari Cikarang, Bekasi, Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas Islam Indonesia dari Yogyakarta, Universitas Brawijaya dan STIE Malangkucecwara dari Malang, Universitas Negeri Semarang dari Semarang, Universitas Padjajaran dari Bandung Sementara, tiga perguruan tinggi asing adalah University of Gloucestershire dari United Kingdom, International School for Business and Social Studies (ISBSS) dari Slovenia, dan University of Granada dari Spanyol.

Konsorsium iHiLead dipimpin oleh David Dawson, PhD, FCIPD, SHEA, Director Master of Arts Higher Education Leadership and Management dari University of Gloucestershire. Dalam pelaksanaannya di Indonesia, konsorsium ini berada di bawah supervisi Ditjen Dikti Ristek. Konsorsium iHiLead bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia melalui reformasi pemimpin dan kepemimpinan perguruan tinggi. Sasaran akhir konsorsium adalah agar kualitas lulusan perguruan tinggi semakin mampu menjawab kebutuhan DUDI. Untuk melaksanakan program-programnya, konsorsium iHiLead mendapat dukungan dari Education, Audiovisual and Culture Executive Agency (EACEA), sebuah badan di bawah Eramus+ dari Uni Eropa. Erasmus+ adalah komisi di Uni Eropa yang mendukung berbagai kegiatan dalam bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan dan olahraga di berbagai negara di dunia.

Selain mendorong terjadinya kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi, papar Paristiyanti, pemerintah juga mendorong transformasi pendidikan tinggi melalui program Kampus Merdeka. Ada delapan Key Performance Indicators dari program transformasi pendidikan tinggi yang mencakup lulusan mendapat pekerjaan yang layak, program studi mendapat akreditasi internasional, adanya kelas-kelas kolaboratif dan partisipatif, program studi menjalin kerja sama dengan mitra berkelas dunia, dosen mendapat rekognisi internasional, adanya praktisi yang mengajar di kampus, dosen-dosen juga aktif di luar kampusnya (bisa di industri atau kampus lain), dan mahasiswa diberi kesempatan untuk mendapat pengalaman di luar kampus baik melalui program magang, melakukan riset, berwirausaha atau ikut dalam program pertukaran mahasiswa. “Melalui transformasi tersebut, pendidikan tinggi diharapkan mampu menghasilkan SDM yang unggul, sehingga Indonesia bisa tumbuh menjadi negara maju,” tegas Paristiyanti.

Untuk mendukung tercapainya target tersebut, ungkap Paristiyanti, Kemendikbud Ristek menyiapkan anggaran yang tidak sedikit. Misalnya, selama tahun 2022, Kemendikbud Ristek mengalokasikan anggaran senilai Rp3 triliun yang dialokasikan untuk mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Selain itu, lanjut Paristiyanti, Kemendikbud Ristek juga mendukung kolaborasi pendidikan tinggi di Indonesia dengan lembaga-lembaga internasional, seperti yang dilakukan konsorsium iHiLead.

Agar bisa menghasilkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan DUDI, perguruan tinggi juga perlu melakukan transformasi—sebagaimana dicanangkan Kemendikbud Ristek melalui program Kampus Merdeka. Agar transformasi bergulir, peningkatan kapasitas pemimpin dan kepemimpinan menjadi faktor kunci. Itulah yang ingin dicapai melalui program Train the Trainers.

               Dalam sambutan selamat datangnya kepada peserta program Train the Trainers, Rektor PresUniv Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto menekankan pentingnya transformasi pemimpin dan kepemimpinan di perguruan tinggi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Kata Jony, “Melalui program ini diharapkan kapasitas pemimpin dan kepemimpinan di perguruan tinggi akan meningkat. Dengan adanya peningkatan kapasitas tersebut, perguruan tinggi diharapkan lebih mampu menghasilkan lulusan yang akan menjadi pemimpin masa depan.”

               Melalui pelatihan ini Jony juga berharap para pemimpin perguruan tinggi mampu menggali berbagai informasi dan menimba banyak pengetahuan, sehingga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa yang sedang dan akan dilakukan. Katanya lagi, “Saya juga berharap pelatihan ini mampu meningkatkan energi positif dari para pemimpin perguruan tinggi. Lalu, informasi dan energi positif tersebut dapat disebarluaskan ke lembaga-lembaga pendidikan yang mereka pimpin dan ke masyarakat.”

               Ada sejumlah topik yang menjadi fokus pada ajang pelatihan kali ini. Di antaranya, isu-isu tentang autentic leadership, immunity to change, bagaimana mengelola sumber daya perguruan tinggi dan sumber daya manusianya, mengelola perubahan dan risiko, termasuk mengelola konflik. Selain itu, pelatihan ini juga membahas strategi yang terkait dengan action learning dan bagaimana menerapkan proyek perubahan di perguruan tinggi, termasuk mendesain perubahan yang memberikan dampak positif.

***

Sekilas tentang Enam Sasaran Konsorsium iHiLead

Konsorsium iHiLead beranggotakan tujuh perguruan tinggi Indonesia dan tiga perguruan tinggi dari Uni Eropa. Sementara, yang dimaksud pemimpin mencakup rektor, wakil rektor, dekan dan kepala program studi, pimpinan akademik lainnya, kalangan manajemen senior, termasuk para pimpinan di bidang non akademik (tenaga kependidikan). Merujuk pada definisi pimpinan tersebut, pada tujuh perguruan tinggi yang menjadi anggota konsorsium iHiLead saja setidak-tidaknya ada 1.731 pemimpin dan manajer. Mereka membawahi 7.300 staf dan 189.000 mahasiswa. 

Ada enam sasaran yang ingin dicapai oleh konsorsium iHiLead. Pertama, menggali best practice dari perguruan-perguruan tinggi di Uni Eropa yang menjadi mitra konsorsium. Ini mencakup pembuatan desain dan delivery dari kerangka pengembangan kepemimpinan, jejaring dan program-programnya. Semua itu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan manajerial dari pimpinan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.

               Kedua, membangun jejaring antarpemimpin dan jajaran manajemen di perguruan tinggi anggota konsorsium. Kelak jejaring ini diarahkan untuk fokus pada aspek tata kelola, perencanaan dan manajemen strategis, yang selaras dan dapat diterapkan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

               Ketiga, menyelenggarakan pelatihan untuk dosen dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi. Pelatihan ini dilakukan dalam kerangka pengembangan kepemimpinan dan manajerial, pengembangan jejaring dan program-program lainnya yang terkait.

               Keempat, membangun infrastruktur untuk mendukung dan menjamin kesinambungan jejaring. Langkah ini menjadi  bagian dari upaya pengembangan kepemimpinan dan manajerial yang baru dan program-program terkait lainnya.

Kelima, mendesain model percontohan dan penerapan dari jejaring kepemimpinan dan manajerial yang baru dan program-program terkait lainnya di perguruan tinggi di Indonesia.

               Keenam, menyebarluaskan kerangka, jejaring dan program-program yang baru, setelah seluruh jejaring dan program tersebut diterapkan oleh tujuh perguruan tinggi yang menjadi anggota konsorsium. Penyebarluasan ini dilakukan bukan hanya untuk berbagai perguruan tinggi di Indonesia, tetapi juga di Uni Eropa dan dunia.

Untuk informasi lebih jauh, hubungi:

Ir. Dwi Nita Aryani, MM, Ph.D

STIE Malangkucecwara, Malang, Jawa Timur

Cellphone          : +62 812-4967-266

Email                  : dwinita@stie-mce.ac.id

Our Score
Click to rate this post!
[Total: 4 Average: 4]

Hits: 66

Categories
Leadership Network News

KONSORSIUM iHiLead DUKUNG PROGRAM MERDEKA BELAJAR-KAMPUS MERDEKA MELALUI PROGRAM ERASMUS+

iHiLead Launch Zoom

Pada tanggal 1 dan 2 Maret 2021, tujuh perguruan tinggi Indonesia yaitu Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Islam Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Semarang, Universitas Padjajaran, President University, dan STIE Malangkuḉeḉwara serta tiga perguruan tinggi Eropa terdiri dari University of Gloucestershire (UoG), dari Inggris, International School for Business and Social Studies (ISBSS) dari Slovenia, dan University of Granada dari Spanyol melakukan kick off meeting program iHiLead secara virtual. iHiLead adalah sebuah konsorsium perguruaan tinggi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia melalui reformasi pemimpin dan kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi. Konsorsium ini berada di bawah supervisi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia. Dalam pelaksanaannya, konsorsium iHiLead mendapatkan dukungan dari program Eramus+ yang didanai oleh Uni Eropa.

Opening remarks dan press conference yang dilaunching pada Selasa, 2 Maret 2021 pukul 19.00 WIB disampaikan oleh Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussaalam, H.E. Mr. Vincent Piket, M.A, Ph.D,  serta David Dawson,Ph.D, FCIPD, SHEA – Director Master of Arts Higher Education Leadership and Management dari UoG, Inggris. Acara kick off meeting juga dihadiri lebih  dari 250 pejabat dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Proyek iHiLead ini akan berlangsung selama tiga tahun, yakni sejak 15 Januari 2021 hingga 14 Januari 2024

iHiLead PROJECT ERASMUS+ PROGRAM SUPPORTS EMANCIPATED LEARNING FOR HIGHER EDUCATION INSTITUTIONS IN INDONESIA

Seven Indonesian universities, namely Ahmad Dahlan University, Universitas Islam Indonesia, Universitas Brawijaya, Semarang State University, Padjajaran University, President University, and STIE Malangkuḉeḉwara as well as three European universities consisting of the University of Gloucestershire (UoG), from United Kingdom, The International School for Business and Social Studies (ISBSS) from Slovenia, and the University of Granada from Spain have held a virtual kick-off meeting for the iHiLead program on March 1st and 2nd, 2021. iHiLead is a university consortium that aims to improve the quality of higher education in Indonesia through reformation of leaders and leadership in higher education by giving training programmes as well as strengthening strategic planning and governance at Indonesian universities.

This consortium is under the supervision of the Directorate General of Higher Education, Ministry of Education of Republic of Indonesia. In its implementation, the iHiLead consortium is supported by the Eramus+ program which is funded by the European Union. Opening remarks and press conferences which launched on Tuesday, March 2, 2021 at 19.00 (GMT+7) were delivered by Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D. the  Director General of Higher Education, Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia; Ambassador of the European Union to Indonesia and Brunei Darussalam, H.E. Mr. Vincent Piket, M.A, Ph.D, and David Dawson, Ph.D, FCIPD, SHEA – the Director of Master of Arts Higher Education Leadership and Management from the University of Gloucestershire, United Kingdom. The kick off meeting was also attended by more than 250 participants from various universities in Indonesia. The iHiLead project will be implemented for three years, from January 15, 2021 to January 14, 2024.

Our Score
Click to rate this post!
[Total: 1 Average: 5]

Hits: 256